Rabu, 05 September 2012

Sebuah Renungan bagi Sang Penuntut Ilmu


Tulisan ini saya share dari seorang ikhwan.. Semoga bisa menjadi nasihat terutama bagi diri saya sendiri dan juga bagi kita semua pada umumnya.. Berikut merupakan isi nasihatnya bagi kita semua :


Di awal-awal saya tiba di Yaman, seorang teman Yamani meminjamkan sebuah kitab yang berjudul Minhaj Thalibil Ilmi. Kitab yang ditulis oleh salah seorang murid Asy Syaikh Muqbil ini berisi silsilah durus, daftar kitab yang dipakai oleh para ulama dan harus dipelajari oleh seorang penuntut ilmu agar bisa mapan dalam ilmu. Begitu membaca satu persatu judul kitab-kitab tersebut saya baru sadar bahwa perjalanan ini akan sangat panjang. Seingat saya, di antara judul kitab-kitab tersebut:


Dalam bidang tauhid:

- Al Qawaidul Arba’
- Al Qoulul Mufid fi Adillatit Tauhid
- Al Waajibat Al Mutahattimaat
- Al Ushul Ats Tsalatsah
- Kitaabut Tauhid
- Kasyfu Asy Syubuhaat
- Tathiirul I’tiqaad
- Fathul Majid
- Taisir Azizil Hamid


Dalam bidang Aqidah – Asma was Sifaat:

- Lum’atul I’tiqaad
- Al Qowaaidul Mutsla
- Al Aqidah Al Wasithiyah
- Al Aqidah At Thawiyyah
- Syarh At Thahwiyyah
- Risalah At Tadmuriyyah
- Syarhus Sunnah


Dalam bidang hadits:

- Arbain An Nawawiyah
- Umdatul Ahkam
- Bulughul Maram
- Al Lu’lu’ wal Marjaan
- Shahih Al-Bukhari
- Shahih Muslim
- Kutubus Sunan


Dalam bidang bahasa Arab:

- Al Aajurumiyyah
- At Tuhfatus Saniyyah
- Mutammimah Al Ajurumiyyah
- Qatrun Nada
- Alfiyyah Ibnu Malik


Dalam bidang Imla’

- Tuhfatul Markaziiyyah
- Qawaid Al Imla’


Dalam Bidang Mustalahul Hadits:

- Al Baiquniyyah
- Mukhtashar Ulumil Hadits
- Al Muqidhah
- Tadribur Rawi
- Dhawabith Jarh wat Ta’dil
- Syarh Ilal At Tirmidzi


Dalam Bidang Ushul Fiqh:

- Al Waraqaat
- Al Ushul min Ilmil Ushul
- Al Mudzakkiraat
- Ar Risaalah karya Imam Asy Syafi’i


Dalam bidang ushul tafsir:

- Ushul fi Tafsirr
- Muqaddimah Ushul Tafsir Ibni Taimiyyah
- Qawaidul Hisan
- Al Itqan lis Suyuthi


Dan beliau hafizhahullah masih menyebutkan daftar kitab yang panjang yang butuh waktu yang panjang pula untuk mempelajarinya.

Dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa ilmu agama begitu luas. Taruhlah kita enggak usah hitung ilmu-ilmu alat. Cukup ambil tauhid, aqidah, dan fiqh, yang berhubungan ibadah sehari-hari dan yang kita perlukan untuk mendakwahi keluarga dan orang-orang terdekat. Sudahkah kita mencicipi kitab tersebut dengan mempelajarinya? Bahkan mungkin di antara kita ada yang baru pertama kalinya mendengar judul kitab-kitab tersebut?


Sekarang kita masuk ke inti tulisan ini….

Kalau sudah tahu betapa banyaknya perkara yang perlu kita pelajari, masihkah kita habiskan waktu untuk mengurusi perkara-perkara yang tidak bermanfaat? Atau bahkan yang lebih parah dari itu, kita sibukkan diri kita dengan berbagai fitnah yang sebenarnya bukan porsi kita untuk mengurusinya?


Mungkin di antara kita sudah lama mengenal dakwah. Ada yang sudah lima tahun, sepuluh, bahkan belasan tahun sudah mengenal dakwah salafiyah. Dari jangka waktu yang panjang tersebut, sudah seberapa banyak ilmu Diin yang sudah kita pelajari dan kita amalkan?


Wallahi demi Allah, saya banyak melihat ikhwah -semoga Allah menunjuki kita dan mereka semua- bertahun-tahun mengaji tapi sama sekali tidak nampak perubahan dari sisi ilmu dan amal. Tapi anehnya ketika diajak bicara tentang fitnah, si fulan hizbi, ustadz fulan sudah menyimpang, dan tema-tema yang semisalnya masya ALLAH.. Sepertinya ilmunya sudah begitu luas. Yang seperti ini tidaklah sepantasnya.


Bukan berarti kita meninggalkan dari memperingatkan dari dai-dai penyesat umat. Tapi semua ada porsinya. Pikirkan diri kita, keluarga kita, orang tua kita, karib kerabat kita. Bukankah mereka butuh dakwah? Dan bukankah dakwah butuh kepada ilmu? Kalau kita sibukkan diri dengan fitnah, kapan kita sibuk dengan ilmu? Kapan kita mau berdakwah? Apakah kita lantas ingin berdakwah tanpa ilmu?


Sebagian ikhwan mengatakan “Kalau kita enggak ikut-ikutan bicara fitnah, takutnya kita dibilang hizbi, dibilang memble, mumayyi’ dan seterusnya…” Ya akhi fillah, kenapa harus takut? TAKUT itu hanya kepada ALLAH. Bukan kepada manusia. Kalau memang bukan maqam kita untuk bicara, kenapa harus takut untuk tidak bicara?


Mungkin ini sedikit nasihat dari ana, saudaramu fillah. Tidaklah nasihat ini disampaikan melainkan karena kecintaan kepada antum dan juga berbagi dari pengalaman, belajar dari kesalahan yang sudah terjadi, agar tidak kembali terulang pada diri kita.


Waktu terus berjalan. Kita tidak tahu kapan Allah akan cabut nyawa kita. Akankah kita masih sibukkan diri dengan fitnah di tengah kejahilan yang melanda?
http://www.facebook.com/groups/asysyariah/permalink/10151182938156212/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar